Kamis, 30 Agustus 2018

Tolak Peluru

Tolak Peluru

Dibuat oleh :

Wahyu Nur Rahman

Fakultas Ilmu Keolahragaan

Pendidikan Kepelatihan Olahraga

18602241003




Tolak Peluru

Pengertian Tolak Peluru

Tolak peluru adalah salah satu cabang olahraga melempar dalam atletik dimana sang atlet akan melemparkan sebuah bola besi sejauh mungkin dari titik lempar menuju titik pendaratan dengan menggunakan teknik tertentu dan aturan main yang telah ditetapkan. Olahraga tolak peluru bisa dilakukan di lapangan indoor ataupun outdoor.
Tolak peluru merupakan satu-satunya yang bisa dilakukan di lapangan indoor karena tidak seperti lempar cakram misalnya, tolak peluru tak membutuhkan area pendaratan peluru yang luas, karena sejauh ini belum ada atlet yang sanggup melempar hingga melebihi jarak 25 meter.
Tolak peluru merupakan salah satu olah raga berat yang tidak bisa dilakuka sembarangan, meski olah raga ini terkesan sepele, yakni hanya melakukan tolakan bola besi dan selesai.
Rata-rata para juara dunia baik untuk kelas laki-laki atau perempuan, memiliki postur tubuh yang besar dan memiliki energi kuat untuk melakukan tolakan meski banyak juga atlet tolak peluru yang memiliki postur tubuh sedang. Faktor penentu dalam tolak peluru secara umum ada 2, yakni teknik dan postur tubuh atlet.

Sejarah Tolak Peluru

Tolak peluru merupakan olah raga yang telah ada sejak zaman Yunani kuno, hanya saja pada waktu itu bentuk dan tata cara olahraga ini tentu saja berbeda.
Menurut Homer, pada waktu itu olahraga tolak peluru bernama lempar beban (weight trowing). Hanya saja tak ada catatan sejarah mengenai bentuk atau bahkan jenis beban persisnya (yang bisa ditelusuri dari data sejarah yang ada hanyalah lempar batu) yang dipergunakan pada waktu itu.
Namun demikian, olah raga ini merupakan salah satu jenis latihan perang yang dilakukan oleh para prajurit Troya yang kemudian dipertandingkan. Sekali lagi, kompetisi ini tidak bisa dilacak jejaknya. Salah satu jejak yang bisa ditemukan dalam olah raga lempar beban tersebut adalah kompetisi yang diadakan di Skotlandia pada abad ke 1.
Pada abad ke 16 di Inggris, Raja Henry ke VIII juga menyelenggarakan pertandingan yang serupa, yakni lempar beban dan lempar palu. Kompetisi pertama yang bentuknya mendekati tolak peluru masa kini adalah kompetisi pada era pertengahan di mana kompetisi yang diselenggarakan oleh kalangan militer ini diikuti oleh para prajurit yang melemparkan bola besi sejauh mungkin dari titik tolak.
Kompetisi tolak peluru yang pertama kali terdokumentasikan adalah kompetisi di Skotlandia sebagai salah satu bagian dari The British Amateur Championships pada tahun 1866. Sejak saat itu olah raga ini mulai digemari khususnya di negara-negara Eropa dan menjadi salah satu nomor atletik yang dipertandingkan dalam olimpiade modern pertama di Yunani pada tahun 1896.

Gaya Tolak Peluru

Dalam olah raga tolak peluru, ada tiga gaya yang pernah digunakan dalam pertandingan, yakni gaya Klasik, Gaya Glide (meluncur) dan gaya spin (berputar).  Berikut penjelasan selengkapnya:

1. Gaya samping

Gaya ini merupakan gaya yang paling tua dan tidak diketahui siapa penemunya. Gaya ini merupakan gaya tolak peluru yang menggunakan awalan menyamping, yakni atlet menghadap kesamping dalam posisi siap sebelum mulai menolak peluru.
Pada gaya ini, peluru mula-mula dipegang dengan dua tangan, tangan kanan menyangga peluru di atas bahu, dan tangan kiri memegang atau menjaga peluru bagian atas. Namun peluru tersebut nantinya tetap akan dilempar dengan menggunakan satu tangan, yakni tangan kanan.
2. Gaya meluncur ( O’Brien )

Gaya ini pertama kalinya dirilis pada tahun 1951 dan pertamakali dipergunakan oleh Parry O’Brien dari Amerika Serikat. Berbeda dengan gaya samping, pada gaya ini atlet akan melakukan setengah putaran terlebih dahulu sebelum melontarkan peluru.
Pada gaya ini, atlet akan menghadap ke belakang pada persiapan awalnya, lalu mendorong tubuhnya ke arah belakang untuk kemudian segera menghadap depan dan melontarkan peluru.
Lemparan terjauh dengan menggunakan gaya ini adalah lemparan milik Ulf Timmermann (Jerman Timur) dengan jarak lempar sejauh 23.06 meter.
3. Gaya Spin (berputar)

Gaya ini pertamakali d rilis pada tahun 1972 oleh Aleksandr Baryshnikov dari Rusia yang berhasil membuat rekor baru untuk nomor putra dengan jarak lempar 22 meter di tahun itu.
Pada gaya ini, atlet akan melakukan putaran 360 derajad sebelum melakukan lemparan. Gaya berputar ini diharapkan mampu memberikan momentum terbaik untuk melempar peluru sejauh-jauhnya.
Gaya ini merupaka gaya yang paling sulit dalam tolak peluru karena atlet tak hanya fokus pada kekuatan tolakan, namun juga harus menguasai teknik berputar dengan baik. Jika sedikit saja atlet melakukan kesalahan dalam putaran, maka hasilkan akan buruk dan bahkan bisa berujung pada kegagalan.
Atlet terbaik dalam tolak peluru yang memecahkan rekor baru dengan gaya ini adalah Jackson Gill yang berhasil menolak dengan jarak 24.45 meter.


Teknik Tolak Peluru

1. Teknik Tolak Peluru Gaya Glide (meluncur)

2. Teknik Tolak Peluru Gaya Spin (berputar)


Peraturan Tolak Peluru


        Dalam olahraga tolak peluru, ada beberapa aturan yang tidak boleh dilanggar oleh peserta. Berikut ini merupakan 9 point peraturan tolak peluru:

1. Atlet boleh memasuki lingkaran tolakan dari arah mana saja. Biasanya para atlet memilih untuk masuk lingkaran dari sisi belakang dan samping.
2. Atlet tolak peluru hanya memiliki waktu 60 detik untuk menyelesaikan pertandingan setelah namanya dipanggil.
3. Atlet tidak diperkenankan menggunakan sarung tangan, namun masih boleh menggunakan pelindung ruas jari (taping) selama pertandingan.
4. Atlet harus menahan peluru dengan menggunakan lehernya selama ia melakukan gerakan untuk tolakan.
5. Peluru harus dilontarkan/ditolak  hanya dengan menggunakan satu tangan dengan posisi lebih tinggi dari bahu.
6. Atlet hanya boleh melakukan gerakan tolakan di dalam lingkaran saja, ia menyentuhkan kakinya sedikit saja di luar batas sisi setengah lingkaran bagian depan, maka ia dinyatakan diskualifikasi.
7. Peluru harus mendarat pada sektor area pendaratan yang disediakan (45 dejarat).
8. Atlet harus meninggalkan lingkaran setelah melakukan lemparan hanya dengan melewati sisi lingkaran bagian belakang.
9. Atlet hanya boleh meninggalkan lingkaran setelah peluru mendarat.

Peluru yang digunakan

Bola besi/peluru dengan ketentuang sebagai berikut:
Besar bola menyesuaikan dengan jenis lapangan, biasanya lapangan indor akan menggunakan bola dengan ukuran sedikit lebih besar dari outdoor dan tentunya bola tersebut dibuat dengan bahan yang berbeda asalkan beratnya sama. Peluru ini bisa dibuat dari bahan berupa pasir, besi, logam solid, stainless steel, material sintetis dan polyvinyl.
Bola besi/peluru untuk senior putra dengan berat 7.257 Kg
Bola besi/peluru untuk senior putri dengan berat 4 Kg
Bola besi/peluru untuk junior putra dengan berat 5 Kg
Bola besi/peluru untuk junior putri dengan berat 3 Kg

Arena Tolak Peluru


Refferensi


Lempar Cakram


Lempar Cakram
A. Pengertian Lempar Cakram

Lempar cakram adalah salah satu cabang olahraga atletikpada nomor lempar yang dimana sang atlet harus melempar cakram sebanyak 4 kalidalam setiap pertandingan untuk memperoleh jarak lempar terjauh pada lapangan khusus lempar cakram dengan aturan yang berlaku. Dalam pertandingan lempar cakram, atlet akan bertanding sesuai dengan kelasnya yang dibagi berdasarkan umur atlet. Kategori tersebut akan mempengaruhi berat cakram yang akan dipergunakan oleh atlet. Namun pada umumnya berat cakram untuk atlet putra adalah 2 kg dengan ukuran diameter 22cm dan untuk atlet putri adalah 1 kg dan diameter 18 cm
Menurut peraturan organisasi atletik internasional, IAAF (Internasional Amateur Athletic Federation), atlet lempar cakram usia muda (16-17) tahun akan melempar cakram dengan berat 1,5 kg, sementara untuk kelas junior atau usia (18-19 tahun) akan melempar cakram dengan berat 1,75 kg, dan usia 20-49 tahun adalah 2 kg. Sementara itu bagi atlet putri, beban cakram 1 kg diperkenankan untuk segala usia hingga batas usia 75 tahun.
Sejauh ini yang menjadi atlet lempar cakram dalam pertandingan berskala internasional adalah para atlet yang berusia antara 20 tahun-49 tahun. Rata-rata mereka masih segar bugar dan berbadan besar serta masih memiliki stamina yang sangat terjaga dengan baik sehingga bisa melempar cakram dengan jarak yang sangat jauh dan rekor terjauh yang sementara ini tercatat adalah 74,08 meter oleh Jurgen Schult pada 6 juni 1986 di Neubrandenburg.

B. Sejarah Lempar Cakram



Aktivitas melempar mula-mula bukanlah olah raga, melainkan aktivitas sehari-hari manusia untuk bertahan hidup pada masa berburu dan meramu hingga masa saat ini.
Lempar cakram menjadi sebuah olah raga yang dipertandingkan diperkirakan mulai ada bahkan sejak abad ke 5 sebelum masehi.
Di Yunani, olah raga ini menjadi salah satu olah raga tertua yang ditandai dengan adanya peninggalan patung kuno seorang lelaki yang memegang cakram dalam posisi akan melempar, yakni patung Myron Discobolus.
Tak hanya di Yunani, di beberapa negara Eropa terdapat patung kuno sejenis, yakni seseorang atau dua orang yang sedang melemparkan cakram.
Hal ini menandakan bahwa olah raga lempar cakram di Eropa masa lalu merupakan olah raga yang penting.
Lempar cakram merupakan olah raga yang selalu ada dalam setiap ajang olah raga internasional seperti olimpiade. Tak hanya itu, lempar cakram merupakan olah raga yang menjadi ikon.
Sejak olimpiade modern yang diadakan pertamakali pada tahun 1896, gambar atas figur atlet lempar cakram menjadi ikon untuk mempromosikan ajang bergengsi tersebut yang bahkan dibuat untuk stempel pada tahun 1896..
Semenjak runtuhnya kejayaan eropa kuno, olah raga ini sempat menghilang dalam kehidupan masyarakat dan hanya menjadi cerita dalam narasi sejarah.
Olah raga ini kemudian ditemukan kembali oleh seorang German, Christian Georg Kohlrausch bersama muridnya pada tahun 1870 melalui riset sejarah yang panjang.

 

C. Cara Memegang Cakram

 

Sampai saat ini cara memegang cakram yang paling efisian hanya ada dua cara, yakni dengan posisi tangan sebagai berikut:
1. Cakram dipegang dengan tangan kanan (atau tangan kiri bagi atlet yang kidal).
Posisi cakram melekat pada telapak tangan dan ditahan dengan jari-jari tangan, yakni ruas jari telunjuk-kelingking mencengkram pinggir cakram dan ibu jari diposisikan bebas. Posisi jari telunjuk-kelingking terbuka lebar sehingga menjangkau lebih luas pinggiran permukaan cakram.
Selain itu, posisi tangan agak ditekuk ketika memegang cakram agar bagian cakram yang tidak dicengkram jari bisa mendapatkan tumpuan sehingga tidak mudah jatuh ketika diayun dan dilemparkan.
2. Posisi ini hanya sedikit berbeda dengan posisi pertama dan perbedaannya hanya terletak pada kerapatan jari.
Cara melakukannya adalah, cakram dipegang dengan tangan kanan (atau tangan kiri bagi atlet yang kidal).
Posisi cakram melekat pada telapak tangan dan ditahan dengan jari-jari tangan, yakni ruas jari telunjuk-kelingking mencengkram pinggir cakram dan ibu jari diposisikan bebas.Posisi jari telunjuk-kelingking tidak terbuka lebar alias rapat sehingga tidak menjangkau secara luas pinggiran permukaan cakram.
Selain itu, posisi tangan agak ditekuk ketika memegang cakram agar bagian cakram yang tidak dicengkram jari bisa mendapatkan tumpuan sehingga tidak mudah jatuh ketika diayun dan dilemparkan.
D. Gaya dalam lempar cakram ditentukan dari awalan yang dipilih.
1. Lempar Cakram Gaya Samping
Gaya samping merupakan gaya dalam lempar cakram dimana pada saat persiapan, posisi tubuh atlet menghadap ke samping atau searah dengan tangan yang dipergunakan untuk memegang cakram.
Umumnya adalah samping kanan karena sebagian besar atlet lempar cakram menggunakan tangan kanannya untuk memegang cakram.
Melalui gaya ini, atlet bisa mengambil ancang-ancang dengan dua cara, yakni membuat ayunan dari samping ke depan beberapa kali untuk mengukur sudut lalu pada ayunan kesekian ia akan melepaskan cakram sejauh mungkin ke depan.
2. Lempar Cakram Gaya Belakang
Lempar cakram gaya belakang pada dasarnya sama dengan lempar cakram gaya samping, hanya saja yang membedakannya adalah posisi tubuh saat memulai awalan.
Gaya belakang ini memiliki keuntungan, yakni jarak untuk menciptakan momentum lempar lebih luas sehingga secara teoritis hasil lemparan akan lebih jauh.
Namun demikian, gaya ini lebih sulit daripada gaya samping dan cenderung memiliki resiko yang lebih besar karena ketika atlet menghadap kebelakang ia tak bisa menentukan titik lempar sebaik pada gaya sisi samping.
Ada dua cara dalam melakukan lempar cakram gaya belakang, yang pertama atlet akan membuat gerakan setengah lingkaran lalu melepaskan cakramnya, dan yang kedua atlet membuat satu putaran penuh lalu melepaskan cakramnya.
E. Teknik Dasar
Ada beberapa hal yang hendak dibahas secara umum tentang teknik dasar melempar cakram, yakni:
1. Persiapan
Proses ini merupakan hal yang penting sebelum atlet masuk ke arena, yakni atlet sudah harus melakukan pemanasan dan peregangan untuk menghindari cidera otot.
Pemanasan bisa dilakukan dengan cara berlari selama kurang lebih 30 menit. Fungsi dari pemanasan ini adalah untuk membuat tubuh tidak kaku dan siap untuk melakukan peregangan.
Proses peregangan harus mencangkup seluruh bagian tubuh mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki karena bagaimanapun juga lempar cakram melibatkan suluruh bagian tubuh dengan energi besar sehingga rawan cidera.
Beri porsi lebih untuk meregangkan bagian leher, lengan, pundak, pergelangan tangan, jari-jari tangan, tulang punggung, pinggul, serta pergelangan kaki.
2. Awalan
Ketika atlet sudah masuk arena, maka yang perlu diperhatikan adalah menentukan posisi tubuh sesuai dengan gaya yang akan dipergunakan. Usahakan badan rileks dan pikiran fokus pada tubuh serta latihan-latihan yang pernah dijalani.
Lempar cakram merupakan olah raga yang membutuhkan ketenangan ekstra sebelum memulainya. Tidak ada salahnya atlet melakukan orientasi lapangan, meski ia sudah hafal dan mungkin telah ribuan kali melakukannya, yakni dengan berjalan mengelilingi lingkaran tempat melakukan lemparan sambil melihat area target.
Fokuskan pikiran pada target terjauh. Lalu mulailah melakukan gerakan untuk menciptakan momentum lemparan sesuai dengan gaya yang dipergunakan.
3. Melempar
Lakukan gerakan melempar sesuai gaya yang dipergunakan.

 

F. Teknik Lempar Cakram
1. Teknik Lempar Cakram Gaya Samping

 

2. Teknik Lempar Cakram Gaya Belakang




G. Arena lempar cakram :

H. Peraturan Lempar Cakram
Ada beberapa peraturan dalam lempar cakram sebagaimana akan diuraikan berikut ini:
1.    Untuk pertandingan berskala internasional, ukuran lapangan dan ukuran cakram menggunakan ukuran standard yang ditetapkan IAAF sebagaimana telah dijabarkan pada bagian sebelumnya.
2.    Pertandingan menggunakan 5 wasit, 2 wasit berada di area atlet melempar dan bertugas untuk mengawasi kaki atlet saat berputar sekaligus memberikan aba-aba kepada atlet, sedangkan 3 wasit lainnya berada di lapangan pendaratan dan bertugas mengawasi titik jatuh cakram dan mengukur jarak jatuh cakram dari titik lempar.
3.    Atlet tidak diperbolehkan keluar lingkaran setelah berada pada posisi siap dan sebelum menyelesaikan lemparan.
4.    Atlet tidak boleh menginjak bagian luar lingkaran ketika melakukan lemparan.
5.    Atlet dinyatakan diskualifikasi apabila setelah melempar atlet keluar arena melalui sector lempar
Sekian informasi mengenai lempar cakram, semoga anda dapat menjadi atlet lempar cakram internasional. Terima kasih.

Referensi  :
https://www.google.co.id/search?q=arena+lempar+cakram&safe=strict&tbm=isch&source=iu&ictx=1&fir=SQVsts3quhVTTM%253A%252CJ5bzpq847o2UhM%252C_&usg=AFrqEzeVoN5G1dAE1vtpCH9U2iTZQb_NOQ&sa=X&ved=2ahUKEwiMytGh3ZPdAhWZV30KHaaJBxsQ9QEwAXoECAYQBA#imgrc=gI9myr0LYv44sM:

Senin, 27 Agustus 2018

Tugas Artikel TIK

Latihan Mental Bagi Atlet Pelajar

Dibuat oleh :

Wahyu Nur Rahman

Fakultas Ilmu Keolahragaan

Pendidikan Kepelatihan Olahraga

18602241003






Latihan Mental Bagi Atlet Pelajar

Judul buku               : Latihan Mental Bagi Atlet Pelajar
Penulis                     : Dra. Yuanita Nasution, M.App.Sc., Psi.
Tahun Terbit            : 2009
Tempat Terbit          : Jakarta
Jumlah Halaman    : 83 Halaman
Penerbit                   : Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani,
  Sekretariat Jenderal,
  Departemen Pendidikan Nasional.

          Buku Latihan Mental Bagi Atlet Pelajar disusun untuk meemaparkan hal-hal yang perlu dicermati dalam bidang psikologi olahraga yang telah dilaksanakan oleh Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Departemen Pendidikan Nasional terhadap atlet pelajar.
          Buku ini juga berisi pemahaman tentang latihan mental, permasalahan mental dalam pelatihan olahraga pelajar, latihan kecakapan mental, latihan imajeri spesifik cabang olahraga dan implementasi latihan kecakapan mental.

Kelebihan dari buku ini adalah mampu memberikan informasi tentang nilai-nilai yang dapat menjadikan para atlet pelajar memiliki mental yang kuat. Buku ini dirancang dengan bahasa yang sedrhana agar dapat langsung di praktekan oleh para atlet pelajar dan Pembina olahraga sebagai panduan dalam upaya meningkatkan kecakapan mental atlet serta membangun suasana latihan yang kondusif, sehingga para atlet dapat menampilkan prestasi terbaiknya.
          Kelemahan yang dimiliki buku ini adalah kurang jelasnya beberapa materi serta minimnya cara pengaplikasian bagi atlet pemula, sehingga pesan yang disampaikan kurang tersampaikan pada atlet pemula.
          Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa buku ini berisi program latihan mental bagi atlet sehingga tidak terjadi demam panggung pada saat berlomba, serta dapat diterapkan bagi atlet dalam latihan sehari-hari ,untuk menciptakan dan mendukung terjadinya suasana latihan yang kondusif. Sehingga, mental atlet dapat terbina dengan baik. Buku ini diharapkan bisa dijadikan sebagai rujukan atau sumber primer bagi para atlet baik pemula ataupun yang sudah berpengalaman untuk melatih mentalnya.

Referensi

http://gudangpelajaran.com/tolak-peluru/amp-39/ http://library.uny.ac.id/index.php?p=show_detail&id=12
Buku Latihan Mental bagi atlet pelajar, PUSJAS DEPDIKNAS.